Skip to content

Archive · 2006 · September

Puasa dan Pengelolaan Keuangan

Keuangan

Tidak seperti biasanya, saat saya berjalan pagi keliling perumahan pada hari Minggu kemarin, suasana terlihat begitu ramai. Begitu banyak orang, tua dan muda, berjalan kaki santai ataupun naik sepeda motor. Sempat bingung sesaat, namun saya teringat sesuatu. Ya, kemarin adalah hari pertama menunaikan ibadah puasa bagi para saudara kita. Karenanya saya tergerak untuk menulis tentang pengelolaan keuangan yang berkaitan dengan hal berpuasa.

Ada sekian banyak orang yang melewatkan waktunya dalam menunggu bedug tanda berbuka puasa dengan “nongkrong” di mal. “Adem dan menyenangkan, sehingga tidak terasa sudah waktunya berbuka”, demikian kata mereka. Betul, suasana di mal yang sejuk dengan sekian banyak toko dan outlet yang memamerkan berbagai produk yang menarik hati, khususnya pakaian dan aksesoris yang sangat pas dikenakan saat Lebaran nanti, tentunya sangatlah menyenangkan. Bagaimana tidak?? Yang ini didiskon 50%, yang itu sedang di-SALE. “Masakan kita merayakan Lebaran tanpa baju baru??”, demikian ucap hati sebagai pembenaran dan pembelaan diri. Di sini kita harus ekstra hati-hati, godaan membeli sesuatu yang sebetulnya tidak benar-benar diperlukan sangatlah tinggi. Ingatlah selalu akan prinsip “membeli karena butuh, bukan karena keinginan semata“.

Karena ingin membunuh waktu, banyak orang yang memilih nongkrong sambil bermain game yang sangat seru di pusat hiburan yang banyak kita dapati di mal. Ya, memang sangat menyenangkan. Namun hal ini juga sangat boros karena bermain game bukanlah suatu kebutuhan, bukan??

Menjelang waktu berbuka, banyak pula yang sudah bersiap sedia di Pujasera (Food Court), memesan sekian banyak menu berbuka puasa sesuai selera, disiapkan berjajar di atas meja. Seringkali yang dipesan terlalu berlebihan dari yang bisa ditampung di perut; akibatnya banyak yang tersisa. Bukankah ini suatu pemborosan yang tidak pada tempatnya??

Ibu-ibu juga jadi terdorong untuk menambah menu berbuka puasa. “Ah, khan cuman sekali dalam setahun. Lagian kasihan dong berbuka puasa hanya dengan dua-tiga macam menu, tanpa aneka kolak dan bubur lagi”, pikir mereka. Padahal, memasuki bulan puasa, harga bahan makanan secara umum meningkat, hingga mencapai puncaknya menjelang hari Lebaran. Otomatis, biaya yang harus mereka keluarkan untuk keperluan dapur bakal meningkat drastis. Mereka lupa bahwa puasa adalah sebuah ibadah, suatu media untuk mengontrol diri dan mengalahkan hawa nafsu. Padahal sebenarnya jumlah makanan yang diperlukan saat berpuasa adalah sama saja dengan hari biasa, hanya saja disantap pada waktu yang berbeda.

Marilah menunaikan ibadah puasa dengan senantiasa mengendalikan diri (dan keuangan tentunya :-)). Adalah jauh lebih penting menyisihkan uang untuk zakat dan sedekah bagi kaum dhuafa, ketimbang memesan makanan yang berlebihan dan membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan. Kalahkan diri sendiri dan kontrol hawa nafsu.

Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1427H.