Meminimalkan Risiko
Saat melakukan pengelolaan keuangan, hal untuk meminimalkan risiko sangatlah penting. Bayangkan sesuatu hal buruk terjadi disaat kita telah sadar arti pentingnya pengelolaan keuangan dan telah mendisiplinkan diri untuk menabung dengan konsep Pay Yourself First, membeli barang berdasarkan kebutuhan saja, melakukan penghematan, dll. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menjamin bahwa kita akan terluput dari risiko-risiko kematian, sakit, kebakaran, pencurian, perampokan, dsb. Setidaknya dengan meminimalkan risiko (sebenarnya mungkin lebih tepat dibilang memindahkan risiko ke pihak lain), maka kita dapat mengelola keuangan dengan lebih baik lagi.
Secara umum, risiko dapat diminimalkan dengan menggunakan jasa pihak ke tiga berupa polis asuransi. Di masa lalu, banyak orang merasa enggan untuk mengikuti asuransi, terutama asuransi jiwa. Untunglah saat ini, pandangan keliru tersebut sudah berubah; banyak dari mereka yang sudah menyadari bahwa asuransi adalah penting bagi mereka sendiri.
Upayakan kita telah meminimalkan risiko dengan mengambil asuransi jiwa (bagi yang menanggung keuangan keluarga), asuransi kendaraan bermotor (terutama bila mobilitas kendaraan bermotor cukup tinggi dan/atau risiko hilang/rusaknya kendaraan bermotor tinggi), dan asuransi properti (terutama bila risiko kebakaran/kecurian cukup tinggi).
Banyak orang dibingungkan dengan pertanyaan “Berapa besar nilai pertanggungan yang akan di-cover oleh asuransi jiwa kita??”. Sesungguhnya hal ini sangat subjektif dan tidak ada jawaban yang 100% benar. Ada sebuah patokan umum yang menyatakan bahwa sedikitnya nilai pertanggungan adalah 6x pendapatan tahunan. Ada lagi patokan umum lain yang menyatakan untuk seseorang yang masih single cukup 6-7x pendapatan setahun, dan untuk yang sudah berkeluarga minimal 10x pendapatan setahun. Dalam memutuskan nilai pertanggungan, pertimbangkanlah kewajiban lain yang harus diselesaikan (baik seluruhnya maupun sebagian) tatkala kita meninggal dunia; misalnya cicilan rumah, kendaraan bermotor, hutang lain, kebutuhan pendidikan bagi anak-anak, dll. Bila dana terbatas, Anda bisa memulai dari nilai pertanggungan yang paling memungkinkan untuk saat itu. Suatu saat tatkala kondisi keuangan membaik, Anda bisa membeli polis asuransi jiwa lagi; namun ingat, tingkat premi akan semakin mahal seiring dengan pertambahan usia kita.
Untuk asuransi kerugian seperti mobil dan rumah, Anda tidak bisa menentukan nilai pertanggungan dengan semaunya. Jangan sampai menggunakan nilai pertanggungan dibawah nilai harta benda yang sebenarnya (Under Insured) karena akan merugikan kita sendiri saat mengajukan klaim. Untuk mengantisipasi pengaruh inflasi, Anda bisa menaikkan sekitar 2-5% dari nilai pasar. Namun demikian nilai pertanggungan juga jangan jauh melebihi nilai harta benda yang sebenarnya (Over Insured) karena pihak asuransi akan mengganti sesuai harga pasar yang sebenarnya saat terjadi kerugian total (total loss).
Pelajarilah konsep asuransi dengan seksama. Mintalah agen asuransi menjelaskan dengan detil tentang ketentuan asuransi agar Anda tidak kecewa di kemudian hari. Berhati-hatilah dengan penjelasan agen asuransi dan prospektus asuransi; catat dan simpanlah semua penjelasan agen asuransi; bacalah prospektus asuransi dengan teliti. Pelajari kondisi perusahaan asuransi tersebut, carilah informasi pengalaman pengajuan klaim dari para nasabahnya.
Beli karena produk dan perusahaannya. Jangan pernah membeli asuransi karena rasa kasihan dan sungkan terhadap agen asuransi yang kebetulan teman Anda. Ingat, teman Anda belum tentu bekerja selamanya di perusahaan asuransi tersebut; namun Anda ‘terikat’ dengan polis asuransi (jiwa) bahkan hingga Anda telah meninggal sekalipun (untuk mengurus pengajuan klaim).
Telitilah sebelum membeli. Selamat meminimalkan risiko dengan asuransi!