Pikiran Polos Tanpa Terkotak-kotak
Hari Minggu kemarin, saya mengantar Emmy (kembar fraternal Elly), kedua anaknya (Kayra dan Jo), Elly, serta Brian ke Gua Maria Kerep di Ambarawa. Karena ini merupakan kunjungan saya yang pertama ke sana, perjalanan sempat diwarnai dengan sedikit kebingungan mencari jalan masuk ke sana. Sesampai di sana, kami sempat makan nasi pecel lengkap dengan sayur kenikir, saren, telur puyuh, bakwan, dll. Rasanya cukup enak, saya terkesan dengan sarennya yang kenyal dan tidak amis. Kami juga pesan 15 tusuk sate sapi, namun sayangnya dagingnya kurang juicy dan rasanya kurang mantap. Huss, sebelum terlanjur berubah menjadi posting Ngiras, saya akan kembali ke pokok pembahasan semula.
Saya dan Brian berjalan cukup cepat, meninggalkan rombongan lainnya yang masih di kamar kecil; sehingga kami pun telah sampai di suatu pelataran luas dimana ada sekian banyak pengunjung sedang bersila dan berlutut, dengan khusuk berdoa. Karena rombongan masih belum tiba juga, saya dan Brian pun hanya berdiri saja. Tiba-tiba Brian menggamit tangan saya, dia mengajak saya untuk menyalakan lilin dan berdoa di antara kerumunan orang banyak tersebut. Saya pun menolak, “Jangan dulu, Papa ndak tahu caranya. Lebih baik tunggu A’yi Emmy saja”. Kata Brian, “Lho Pa, khan gampang banget tho.. tinggal nyalain lilin lalu berdoa. Ayo dong Pa!”.
Saya pun tercekat, diam-diam rasa malu pun muncul di hati. Selama ini saya menganggap diri sendiri sebagai seorang yang punya toleransi beragama yang cukup, ke vihara, kelenteng, dan mesjid pun saya tidak berpantang. Menghadiri acara perayaan keagamaan lain atau makan makanan setelah sembahyang pun saya Ok-ok saja (kalau ini sih karena rakus :-), hehehe). Namun nyatanya saya masih terkungkung dalam pikiran yang terkotak-kotak; bahkan di tempat ziarah Bunda Maria yang sebenarnya juga saya kenal dari kitab suci agama yang saya anut. Bukankah berdoa kepada Tuhan itu universal sifatnya?? Akhirnya saya pun mengikuti ritual menelusuri jalan salib, berhenti di setiap diorama perhentian untuk menyalakan lilin dan berdoa, bahkan ikut membasuh muka di sumber air yang ada di pelataran. Tidak lupa saya pun berjalan di Taman Doa, mulai dari Perjamuan Kana, Sungai Jordan, 5 roti 2 ikan, danau Galilea, dan makam Yesus.
Di sini saya belajar satu hal, betapa sederhana dan polosnya pikiran anak kecil. Mereka tidak mengenal pengkotak-kotakan theology di benak pikirannya. Bagi mereka, mau doa ya tinggal doa; mau di pelataran tempat ibadah agama lain ya tidak masalah. Bagi mereka, ibadah tidaklah perlu memusingkan segala macam ritual ini dan itu (yang sebenarnya dibuat oleh manusia sendiri, padahal pada hakekatnya manusia punya begitu banyak keterbatasan dan dosa yang melekat padanya). Dengan tulusnya mereka bisa saling mengucapkan selamat merayakan hari raya agama lain kepada temannya. Mereka bahkan bisa menirukan alunan doa ataupun lagu keagamaan lain yang sering mereka dengar dari TV, radio, dll. Bagi mereka itu hanyalah sekedar interaksi sosial dan bukan dalam konteks percaya atau tidak percaya dengan keyakinan agama lain. Sungguh sederhana bukan??