Skip to content

Archive · 2006 · March

Yang Mulia, Belajarlah Mengantri!!

Sem(b)arangan

Semalam saya makan di warung makan favorit kami. Kebetulan kami datang cukup awal, sehingga masih cukup sepi dan tidak perlu menunggu lama untuk mulai menyantap pesanan kami yang yummy itu. Tidak lama kemudian, ada tiga mobil datang hampir beruntun, tentunya dengan tiga rombongan yang berbeda. Pesanan mereka pun telah dicatat dan dalam proses pembuatan masakan. Selang beberapa menit, ada sebuah mobil yang parkir lagi. Penumpang mobil tersebut adalah sepasang suami istri paruh baya, yang menyampaikan pesanan mereka dan kemudian duduk di sebelah kami. Ada hal aneh yang saya amati. Hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit, pesanan mereka berdua telah tersaji di meja; padahal pesanan rombongan yang datang lebih dahulu malah belum dibuat.

Ada apa gerangan??

Usut punya usut, ternyata (katanya) mereka merupakan orang penting (baca: pejabat) di daerah ini.

Tentu saja saya mengerti pejabat harus didahulukan bila mereka sedang mengemban tugas kedinasan yang penting, sehingga para pemakai jalan harus mengalah saat beliau lewat (walaupun terkadang kita dengar anekdot bahwa yang duduk di dalam mobil tersebut adalah istri mereka yang sedang buru-buru ke tempat arisan). Namun haruskah para pejabat diberi hak ekslusif sehingga tidak perlu mengantri saat bersantap malam di warung pinggir jalan?? Apakah mereka tidak bermalu hati kepada para rakyat jelata yang sama-sama dalam kondisi lapar dan telah mengantri terlebih dahulu?? Apakah mereka sedemikian laparnya sehingga tidak perlu mengindahkan tata krama dan etika mengantri?? Bukankah pada kesempatan tersebut mereka seharusnya menanggalkan jabatan dan statusnya, serta menjadi rakyat biasa?? Bukankah kesempatan tersebut adalah kesempatan yang baik, dimana pejabat dapat bergaul dan berbincang-bincang dengan rakyat jelata, mengetahui permasalahan yang dihadapi rakyat, serta mendapatkan saran dan pendapat mereka tentang masalah aktual sekarang ini??

Sungguh saya pikir ada baiknya pejabat (dan keluarganya) belajar mengantri dan menjalani hidup ini secara biasa dan bersahaja, terutama saat mereka sedang tidak mengemban tugas kedinasan.

Yang Mulia, belajarlah mengantri!!