Skip to content

Archive · 2006 · January

IBC dan Nasionalisme

Sem(b)arangan

Dalam rangka perayaan Imlek 2557 ini, tiba-tiba terbersit keinginan dalam hati untuk menulis pandangan pribadi saya yang dangkal tentang Indonesian Born Chinese dan Nasionalisme.

Saya adalah seorang Indonesian Born Chinese (selanjutnya saya sebut dengan IBC saja). Ayah saya berasal dari Pontianak, dari suku Teochew/Tiociu; sedangkan ibu saya berasal dari Singkawang, dari suku Hakka. Setiap anggota keluarga masih memiliki nama Chinese, bahkan sampai ke level anak saya, Brian (walaupun nama yang diberikan kepadanya adalah nama pilihan ayah saya, karena saya tidak punya kompetensi untuk melakukannya). Keluarga kami masih menjalankan berbagai tradisi Tionghoa setiap waktu, seperti Imlek, Cap Go Meh, Ceng Beng, dll. Demikian pula dengan tradisi saat menikah, kelahiran anak, usia anak sebulan, kematian, dll. Di waktu kecil, saya pun sering ikut ayah ibu ke kelenteng untuk beribadah. Oleh ayah, saya pun diajari bermain Xiang Qi alias Chinese Chess dan saya pun cukup menggemarinya (hanya sayang kurang kesempatan bermain karena terbatasnya orang yang bisa memainkannya).

Karena dulu nenek saya (dari ibu) sangat sulit berbahasa Indonesia (masa muda beliau di Singapore), juga ibu saya tergolong kurang fasih berbahasa Indonesia, maka sejak kecil saya diajarkan untuk menggunakan dialek Teochew untuk percakapan keluarga sehari-hari. Penggunaan bahasa Jawa sangatlah terbatas (maklum, pengetahuan keluarga juga terbatas), sehingga tatkala membeli jajanan di sekolah (waktu itu masih duduk di SD) dan penjual memberitahu harga barang dengan bahasa Jawa, saya hanya bengong dan menyodorkan seluruh uang saya untuk dipilih sang penjual (selawe, selangkung, seket merupakan istilah yang sangat asing di telinga dan bahkan saya tidak bisa menebak artinya sama sekali).

Waktu SD dan SMP, saya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki atau bersepeda melewati perkampungan penduduk. Saya sering mendengar sekian banyak anak (besar ataupun kecil) melontarkan kata-kata “Cino!! Cino!!” kepada saya. Saya tahu kata “Cina” tapi saya sempat heran kenapa mereka menyebutnya “Cino” yah?? Akhirnya saya pun mendapat penjelasan bahwa “Cino” digunakan untuk mengata-ngatain saya yang IBC ini dan saya diminta untuk mengalah dan membiarkan saja kelakuan mereka tersebut. Saya pun sering menjumpai banyak anak mengucapkan kata-kata sembarangan namun dengan logat khas ala Cino untuk mengejek. Sejak itu, saya pun melangkah lebih cepat atau mengayuh sepeda lebih kencang tatkala ada yang meneriakkan “Cino” kepada saya ataupun mengucapkan kata-kata tak bermakna dengan logat Cino itu. Saya pun sering dilecehkan dengan guyonan yang menyangkut kondisi mata saya yang sipit; yang hanya saya biarkan saja. Namun demikian di sekolah saya mendapatkan banyak teman WNI asli dan hubungan kami baik-baik saja; bahkan saya cukup akrab dengan beberapa diantaranya. Setiap hari kami pun bersepeda/berjalan bersama, main kelereng dan umbul bersama. Saat di Universitas, saya pun pernah mendapatkan perlakuan yang sangat tidak mengenakkan hanya karena saya seorang IBC.

Suatu siang, saya pun dijemput oleh ayah untuk mengambil dokumen penting (kata beliau). Ternyata buku penting tersebut hanyalah sebuah buku hijau, tipis, dengan pasfoto saya yang masih culun (masih SD, padahal saat itu saya sudah SMA). Buku itu bernama SBKRI yang merupakan bukti bahwa saya diakui sebagai WNI. Saking pentingnya, dalam setiap kegiatan pendaftaran sekolah, pembuatan KTP/SIM/Passport, atau aktivitas lainnya, saya selalu diharuskan untuk melampirkan Surat Ganti Nama dan SBKRI.

Menilik semua kejadian tersebut, saya pun mempunyai pandangan bahwa saya dianggap kurang “Indonesia” di depan masyarakat dan institusi negara. Padahal saya sering berbeda pendapat dengan ayah ibu tentang Indonesia. Padahal di setiap pertandingan bulutangkis, saya selalu membela tim Indonesia walaupun ayah ibu saya selalu membela tim China. Padahal saya tidak pernah berpikir untuk tinggal di China sedangkan ayah ibu saya cukup sering ke sana (dan saya percaya mereka bakal memilih untuk hidup di sana bila ada kesempatan). Dan segudang “padahal-padahal” lainnya.

Pada beberapa kesempatan, saya pernah berkunjung ke negara tetangga di Asia untuk melakukan tugas kantor ataupun urusan pribadi. Ada banyak orang yang saya temui saat itu terheran-heran tatkala mengetahui saya Chinese. Well, ada benarnya juga sih.. warna kulit saya relatif lebih gelap dibanding mereka. Saya juga tidak fasih berbahasa Mandarin (sangat pas-pasan untuk berjuang memesan makanan dan menawar barang), saya buta huruf di sana (paling sedih masuk ke restoran yang daftar menunya hanya berisi tulisan kanji saja, tanpa gambar sama sekali; atau menggunakan layanan supir taxi yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali dan sayangnya saya tidak membawa alamat tujuan yang ditulis dalam tulisan kanji). Juga pengetahuan saya tentang tradisi dan kebiasaan di sana sangatlah minim, dll. Jadi saya dianggap kurang “Chinese” dan sangat “Indonesia” di depan masyarakat negara tetangga tadi. Celaka dua belas. Benar-benar “antara ada dan tiada” nih namanya, abisnya Chinese bukan, Indonesia juga bukan.

Yang membuat saya tidak habis berpikir, ada sekian banyak persepsi negatif salah yang dilontarkan terhadap para IBC, diantaranya seperti:

  • IBC kaya-kaya dan kebanyakan menjadi pengusaha. Ini jelas salah, karena sangat banyak IBC yang hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan di ibukota sekalipun. Banyak IBC (terutama generasi yang lalu-lalu) menjadi pengusaha karena mereka terdesak keadaan. Mau kerja di instansi pemerintah jelas sulit, mau kerja di perusahaan pun kesempatannya terbatas, dan akhirnya tidak punya pilihan lain untuk mencoba menjadi pengusaha. Atau karena sudah didikan keluarga yang menjadi pengusaha karena faktor-faktor sebelumnya tadi.
  • Perusahaan IBC memprioritaskan IBC sebagai manager/karyawan inti. Tidak bisa dipungkiri hal ini juga terjadi di masyarakat, namun tidaklah bijak melakukan generalisasi seperti ini. Kenyataannya, banyak badan usaha setempat yang melakukan hal yang serupa, namun koq ndak ada yang protes yah?? Sebagai contoh, warung makan/usaha milik orang Padang memilih orang Padang sebagai karyawannya, demikian pula dengan badan usaha yang dimiliki oleh anggota masyarakat yang berasal dari suku-suku yang lain. Saya pikir hal ini umum dan logis saja, walaupun demikian, saya tetap berprinsip “The right man on the right place“. Seseorang sudah sepantasnya dipilih karena yang bersangkutan mempunyai kapabilitas dan integritas yang baik, tidak perduli apakah dia laki-laki atau perempuan, apakah dia dari suku Jawa, Sunda, Madura, atau Chinese.
  • IBC koq sukanya ngomong dengan temannya menggunakan bahasa Mandarin (atau dialek lainnya). Saya juga masih berpikir hal ini wajar saja, seseorang akan secara otomatis menggunakan bahasa Ibu tatkala bertemu dengan rekan yang mempunyai asal muasal yang sama. Banyak kita dengar orang Jawa berbicara dengan temannya pakai bahasa Jawa, orang Sunda dengan bahasa Sunda, dst. Bahkan saya sendiri senang menggunakan bahasa Jawa tatkala mengobrol dengan IBC lain yang berasal dari Semarang.

Selain itu, IBC juga banyak menerima perlakuan kurang/tidak adil karena ke-IBC-annya, seperti:

  • Penekanan nama asli untuk para IBC pelaku kejahatan, namun tidak menyebutkan nama asli untuk para IBC yang berjasa bagi bangsa, negara, dan masyarakat. Perlu diingat, perilaku seseorang bukanlah berasal dari rasnya, melainkan lingkungan, pendidikan, dan nilai moral yang dianutnya. Keputusan untuk melakukan kejahatan ada pada masing-masing individu. Dalam pemberitaan di media massa, ungkapkanlah kejahatannya dan bagaimana masyarakat dapat belajar melindungi diri dari kejahatan tersebut, tidaklah perlu menekankan bahwa pelaku kejahatan ini berasal dari ras anu, dll.

  • Penggunaan SBKRI dalam setiap aspek pengurusan surat resmi, yang tentu saja sangat menyulitkan IBC. Coba lihat berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengurus SBKRI. Walaupun ada peraturan baru tentang tidak diperlukannya SBKRI dalam pengurusan surat, tapi toh pada kenyataannya, petugas lapangan (atau biro jasa pengurus surat) tetap meminta SBKRI tersebut.

  • Indikator IBC dalam surat kenegaraan (Akta Kelahiran, dll). Kebetulan pernah dibahas di suatu milis, seperti berikut:

    Kalau kebetulan si anak ini keturunan seorang ayah atau ibu Cina, maka di bagian awal akta kelahirannya akan dituliskan nomor Staatsblad yang mengindikasikan kecinaannya. Jadi, dengan membaca akta kelahirannya, seorang pegawai kependudukan seharusnya langsung bisa tahu, apakah seseorang itu keturunan cina atau bukan. (Ini adalah politik hukum pemerintah Belanda yang masih dipertahankan hingga hari ini)

Dengan adanya segudang persepsi negatif dan ketidakadilan tersebut, tentu saja sangat menghalangi proses pembauran IBC dengan masyarakat umum. Namun saya pribadi berpendapat bahwa IBC harus tetap membaur dengan masyarakat sekitar dan meningkatkan nasionalisme. Ini sudah selayaknya dan seharusnya, karena kita lahir di bumi Indonesia; makan, minum, dibesarkan di bumi Indonesia. Namun proses pembauran itu biarlah terjadi dengan sendirinya, tanpa perlu campur tangan yang dipaksakan dari lembaga-lembaga tertentu. Bila pembauran berjalan baik, niscaya dalam pribadi masing-masing IBC ini juga akan tumbuh rasa nasionalisme kepada Indonesia yang tinggi.

Tapi sebentar, bagaimana sih caranya mengukur tingkat nasionalisme?? Apakah orang-orang yang rajin berkoar-koar nasionalis dengan lantang, namun mereka juga melakukan tindak korupsi, bisa disebut mempunyai nasionalisme yang tinggi?? Apakah orang-orang yang gembar-gembor memperjuangkan nasib rakyat, namun mereka malah beraksi meminta kenaikan gaji yang tinggi tanpa dibarengi perbaikan kinerja yang seimbang, melancong keluar negeri dengan dalih studi banding tanpa hasil yang benar-benar bermanfaat bagi pemerintah dan rakyat, bisa disebut mempunyai nasionalisme yang tinggi?? Apakah mereka itu lebih baik dari IBC jelata seperti kami ini??

Manusia bisa memilih dengan siapa dia menikah, dimana dia bertempat tinggal, bagaimana dia melewati kehidupannya. Manusia juga bisa mengubah hidupnya, dari seorang miskin menjadi kaya, dengan modal bekerja keras, kepintaran, keuletan; bisa juga dengan korupsi dan kejahatan lainnya. Manusia bisa memilih dan mengubah jalan hidupnya sesuai kehendak dan usaha yang keras, namun ada satu hal yang tidak akan pernah diubah manusia, kelahirannya. Manusia tidak bisa memilih kapan dan dimana dia dilahirkan, di lingkungan keluarga macam apa dia dilahirkan, dengan kebangsaan apa dia dilahirkan. Oleh karenanya, tidak seorang pun yang patut dan berhak melecehkan, menganiaya, dan memperlakukan tidak adil orang lain atas dasar rasialisme.

Semoga bangsa dan negara Indonesia makin maju dalam semua bidang. Perpecahan dan pertikaian mereda, sehingga rakyat tidak lagi dilingkupi rasa was-was akan aksi bom, terorisme, dan perbuatan negatif lainnya. Perekonomian makin membaik, keamanan pun makin terjamin, dan Indonesia juga diluputkan dari bencana alam yang sangat menyedihkan. Masyarakat semakin dewasa, tidak perlu lagi muncul gonjang-ganjing tentang formalin, bakso tikus, majalah Playboy, dll.

Gong Xi Fa Chai!! Sen Di Cien Khang, Wan Se Ru Yi!!