Waroeng Semawis Semarang
Semalam saya dan keluarga berkesempatan mengunjungi Waroeng Semawis Semarang. Parkir cukup mudah didapat, mungkin karena kami datang cukup malam (sekitar jam 21.00). Sambil berjalan kaki dari lokasi parkir yang tidak jauh, kami pun mulai mendengar hiruk pikuk orang berbicara dan menyanyi, juga mencium harumnya sate dibakar. Tak terasa, kaki pun mulai lebih cepat melangkah.
Waroeng Semawis adalah suatu pusat jajan di Jl Gang Warung, di daerah Pecinan Semarang; yang bertujuan mempromosikan Semarang sebagai suatu kota wisata, termasuk juga wisata kuliner :-). Dalam dua minggu terakhir ini, Waroeng Semawis dibuka pada hari Jumat-Sabtu-Minggu, untuk selanjutnya akan dibuat permanen (CMIIW). Projek ini digarap cukup serius, mulai dari penyaringan pedagang yang berminat menjadi peserta, pasokan listrik dan air bersih, sampai ke perbaikan jalan dan saluran.
Tatkala kami pun telah sampai di ujung Gang Warung, mata saya pun berbinar-binar.. betapa tidak ?? Jalanan dipenuhi dengan kedai makanan dan para penikmat kuliner. Ada Nasi Ayam (bahkan penjualnya diboyong dari depan SD/SMP Karangturi), Nasi Pecel, Sate Babi, Baikut Goreng, Nasi Campur Jakarta, Bubur Ayam Jakarta, sampai ke masakan Pakistan/India; bahkan hidangan eksotis seperti Ular dan Biawak-pun ada!! Ada juga kedai teh dengan berbagai macam teh yang sungguh menarik, mulai dari teh untuk meredakan panas dalam, untuk melangsingkan tubuh, dll. Ini benar-benar surga makanan Semarang!! Kedai makanan diatur di sebelah kanan dan kiri jalan, sedangkan meja dan kursi diletakkan di tengah jalan. Walaupun sudah larut malam, namun masih tetap ramai dan 90% meja dan kursi penuh!! Di bagian tengah, terdapat panggung hiburan dengan penyanyi serta pengiring musik secara live.
Tak terasa kami pun telah selesai menyusuri Gang Warung dari ujung ke ujung bolak-balik (jadi sekitar 2×350 meter), suatu hal yang tidak pernah kami lakukan sebelumnya. Di suatu gang kecil, nampak sekelompok anak muda sedang berlatih Liong, suatu atraksi pertunjukkan menggunakan naga dengan banyak tongkat penyangga. Tentu saja banyak anak kecil (termasuk Brian) yang kegirangan dan setia menunggui mereka berlatih walaupun tidak menggunakan kostum pertunjukkan dan tanpa bunyi-bunyian nyaring seperti biasanya. Dengan penuh semangat mereka berlatih keras, mungkin untuk pertunjukan pada malam minggu ini.
Malam itu hanyalah malam penjajakan bagi kami, mengingat beberapa menit sebelumnya kami telah menyantap Mie Pak Min di perempatan Gambiran – Sebandaran yang sungguh lezat itu. Namun malam ini, kami berencana untuk kembali ke sana dengan kondisi perut kosong agar dengan puas dapat mencicipi beragam makanan yang sungguh membuat air liur menetes.
Yuk manjakan lidah dan perut Anda dengan ikut berwisata kuliner disana !! :-). Hmmm, yummy !!