Skip to content

Archive · 2005 · May

Membaca Pikiran

Sem(b)arangan

Hari ini saya menikmati liburan dengan menonton serial Smallville yang menceritakan masa remaja Clark Kent (aka Superman) bersama teman-teman dekatnya seperti Lana Lang, Chloe, dan tentu saja Lex Luthor. Kebetulan ada sebuah episode yang menampilkan seorang anak kecil bernama Ryan, yang mengalami tindakan kekerasan ayah tirinya dan istri barunya. Yang membuatnya istimewa adalah kemampuan Ryan membaca apa yang sedang dipikirkan orang-orang disekitarnya.

Saya sempat membayangkan betapa senangnya mempunyai kemampuan membaca pikiran seperti Ryan. Sungguh enak bila kita bisa mengetahui apakah si anu bermaksud tidak baik terhadap kita, apakah si dia sungguh merindukan kita, dll.

Namun setelah direnungkan lebih jauh, saya pikir ternyata mempunyai kekebihan tadi malah membuat hidup menjadi tidak tenang dan sama sekali tidak menyenangkan. Kita sibuk memikirkan respons kita terhadap orang-orang yang telah kita baca pikirannya. Kita akan langsung bersikap ketus terhadap orang yang dalam hatinya kurang suka terhadap kita tapi tidak menunjukkannya dengan terang-terangan. Kita menjadi tidak bisa menikmati hubungan antar manusia yang penuh dengan misteri. Dan yang jelas, kita bakal kehilangan tantangan hidup dan seni bernegosiasi/berkomunikasi.

[On 2210+6585+M8]