Bangsa ini Harus Belajar Kedisiplinan (2)
Setiap kali saya, istri dan anak ngiras diluar dan tempat makan yang dikunjungi dalam keadaan penuh, saya selalu dibebastugaskan istri dari urusan antri, terutama bila antrian bersifat manual langsung ke penjual. Kenapa ?? Karena dalam melakukan antrian, saya selalu berasumsi semua orang akan ikut antrian yang benar dan saya tidak melakukan tindakan sikut-sikutan atau bolak-balik ngomong pesanan kepada penjual agar segera dilayani; sehingga kerapkali kita dilayani sekian lama dan dilewati oleh orang-orang yang sebenarnya baru datang setelah kami. Alhasil, sang istri jengkel dan mengambil alih tugas antrian dan dalam hitungan menit kami telah menikmati pesanan makanan.
Saya yakin kebanyakan dari kita pernah mengalami hal yang serupa, mungkin berbeda kasusnya, tapi intinya, kebanyakan orang mungkin mengawalinya dengan antrian yang benar, namun karena diperlakukan tidak adil (orang lain yang tidak antri dengan benar malah mendapatkan giliran lebih dahulu), akhirnya menjadi ikut-ikutan tidak antri dengan benar.
Masalahnya, apakah kita mau seperti ini terus ?? Marilah kita ambil komitmen bersama untuk melakukan antrian dengan tertib dan benar, dan tetap teguh menjalankan itu; jangan ikut-ikutan melanggar antrian hanya karena ada orang lain melakukannya; bilamana bisa, justru kita ingatkan orang yang melanggar tersebut, sehingga tercipta budaya antri yang tertib dan benar. Setuju ??